Beranda | Artikel
Kewajiban Anak dalam Berbakti dan Menjaga Perkataan
20 jam lalu

Kewajiban Anak dalam Berbakti dan Menjaga Perkataan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 22 Dzulhijjah 1447 H / 8 Juni 2026 M.

Kajian Tentang Kewajiban Anak dalam Berbakti dan Menjaga Perkataan

Faedah yang pertama menjelaskan bahwa tata cara berbicara kepada orang tua serta orang-orang yang usianya lebih tua harus dilakukan dengan penuh kelemahlembutan, adab yang mulia, rasa kasih sayang, kerendahan hati, serta sikap yang santun.

Metode komunikasi yang penuh kelembutan ini dipraktikkan secara nyata oleh Nabi Ibrahim ‘Azza wa Jalla kepada bapaknya, meskipun sang bapak berada dalam keadaan kafir. Di tengah kondisi tersebut, Nabi Ibrahim ‘Azza wa Jalla tetap mendakwahi bapaknya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus memberikan peringatan agar meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala.

Adab Islami dalam Memanggil Orang Tua

Nabi Ibrahim ‘Azza wa Jalla memulai penyampaian nasihat kepada bapaknya dengan menggunakan pilihan kata yang sangat santun, sebagaimana terekam di dalam Al-Qur’an:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?`” (QS. Maryam[19]: 42)

Para ulama memberikan penjelasan bahwa penggunaan kalimat ya abati (wahai bapakku) merupakan bentuk panggilan yang sangat lembut dan sarat akan nilai adab. Melalui redaksi ini, Nabi Ibrahim ‘Azza wa Jalla memberikan contoh kepada seluruh umat Islam mengenai pentingnya memilih tutur kata yang baik ketika berinteraksi. Setiap muslim seyogianya meniru cara berkomunikasi yang bagus dan beradab, bukan meniru cara berbicara yang kasar karena tabiat kasar tersebut bukan merupakan cerminan dari ajaran Islam.

Ajaran Islam yang dibawa oleh para nabi senantiasa mengedepankan perkataan yang baik dan penuh kesantunan. Hal ini bertolak belakang dengan kecenderungan sebagian orang yang menyukai gaya penyampaian dakwah yang penuh teriakan atau menggunakan bahasa-bahasa yang kasar demi dinilai berani. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memberikan contoh atau membenarkan penggunaan ucapan yang kasar di dalam berdakwah.

Seruan atau panggilan ya abati yang diulang-ulang oleh Nabi Ibrahim ‘Azza wa Jalla berfungsi untuk menghadirkan ikatan batin serta kedekatan emosional antara seorang anak dengan orang tuanya. Melalui sapaan yang menyejukkan dan penuh penghormatan tersebut, Nabi Ibrahim ‘Azza wa Jalla berusaha menyentuh hati bapaknya agar sudi condong dan menerima kebenaran Islam.

Prinsip kelembutan dan keluhuran akhlak inilah yang menjadi metode dasar Islam di dalam mendidik putra-putrinya. Didikan Islam mengarahkan setiap pemeluknya untuk senantiasa menjaga lisan dan sikap hormat, terutama ketika berhadapan dengan orang tua, meskipun terdapat perbedaan prinsip keyakinan di antara mereka

Gaya penyampaian yang kasar serta berisi muatan yang buruk dipastikan bukan merupakan didikan Islam. Kaum muslimin tidak boleh menyukai hal-hal demikian, meskipun sebagian jiwa manusia terkadang merasa senang dan menganggapnya sebagai bentuk keberanian, yang pada akhirnya justru berujung pada penyesalan atau jerat hukum.

Keteladanan mengenai tutur kata yang indah dapat dilihat pada kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Sallam. Ketika melihat suatu mimpi, beliau menyampaikannya kepada sang ayah dengan ungkapan yang sangat santun:

 يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

“‘Wahai bapakku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; aku lihat semuanya bersujud kepadaku’.” (QS. Yusuf[12]: 4)

Panggilan ya abati (wahai bapakku) yang digunakan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihis Sallam setara dengan kelembutan yang dicontohkan oleh para nabi lainnya. Tutur kata tersebut terdengar sangat nyaman, indah, dan penuh adab ketika diucapkan kepada orang tua.

Kesantunan ini terus dipertahankan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihis Sallam bahkan setelah mimpi tersebut menjadi kenyataan di kemudian hari. Ketika mimpi tersebut tertakwilkan, di mana saudara-saudara beserta kedua orang tuanya datang dan memberikan penghormatan, beliau kembali berucap:

 يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

“Wahai bapakku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya kenyataan’.” (QS. Yusuf[12]: 100)

Keteladanan Nabi Ismail ‘Alaihis Sallam

Contoh keluhuran adab yang lain ditunjukkan oleh Nabi Ismail ‘Alaihis Sallam kepada ayahnya, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam. Ketika sang ayah menyampaikan perintah yang sangat berat melalui mimpinya:

 يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“’Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!`” (QS. As-Saffat[37]: 102)

Nabi Ismail ‘Alaihis Sallam tidak meresponsnya dengan emosi atau perkataan yang kasar. Beliau justru menjawabnya dengan panggilan yang sangat sejuk dan menenangkan hati:

 يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرَ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. As-Saffat[37]: 102)

Pilihan kalimat tersebut merupakan cerminan nyata dari ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an. Kaum muslimin dilarang keras berpaling dari tuntunan mulia ini dan wajib menjadikannya sebagai pedoman utama di dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.

Kewajiban Anak dalam Berbakti dan Menjaga Perkataan

Berdasarkan teladan dari para nabi tersebut, kewajiban bagi setiap anak (al-abna) adalah senantiasa berlemah lembut kepada kedua orang tua, baik ketika berbicara maupun saat bermaksud memberikan nasihat. Sikap ini ditegakkan dalam rangka mencontoh para nabi (ta’assiyan bil anbiya) serta sebagai wujud kepatuhan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra[17]: 23)

Ketentuan di dalam surah Al-Isra menegaskan larangan mengucapkan kata yang merendahkan kepada orang tua:

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.” (QS. Al-Isra[17]: 23)

Kalimat uf bermakna sebuah keluhan atau bentuk kejengkelan (tadjur). Di dalam mushaf Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia, kata tersebut diterjemahkan dengan kalimat “ah”. Larangan ini menunjukkan bahwa mengucapkan kata “ah” saja sudah termasuk ke dalam tindakan durhaka, sehingga perbuatan yang lebih berat seperti berteriak-teriak atau memukul orang tua merupakan pelanggaran yang jauh lebih parah. Tindakan seorang anak yang menjawab perintah orang tuanya dengan ucapan “ah” dipastikan sudah masuk ke dalam tingkatan kedurhakaan.

Larangan tersebut diikuti dengan perintah untuk bersikap santun melalui firman-Nya:

وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra[17]: 23)

Syariat Islam memerintahkan seorang anak untuk merendahkan diri di hadapan kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (QS. Al-Isra[17]: 24)

Penerapan adab merendahkan diri ini mencakup perbuatan fisik di dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak pantas mengambil posisi duduk di tempat yang lebih tinggi sementara orang tuanya berada di posisi bawah. Di dalam kitab Al-Adabul Mufrad, terdapat tuntunan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum salaf mengenai adab yang benar, seperti larangan bagi seorang anak untuk berjalan mendahului orang tuanya. Posisi anak berada di belakang orang tua, kecuali pada malam hari yang gelap ketika anak harus berjalan di depan untuk memastikan keamanan jalan dari bahaya.

Adab kesantunan seorang anak juga dapat dinilai pada saat bertamu. Seorang anak tidak diperbolehkan langsung duduk sebelum orang tuanya dipersilakan dan mengambil posisi duduk terlebih dahulu. Tuntunan Islam mengajarkan anak untuk mendahulukan orang tuanya dengan mempersilakan mereka duduk, baru kemudian anak menyusul duduk setelahnya. Keberadaan fenomena anak-anak zaman sekarang yang langsung duduk tanpa memedulikan orang tuanya yang masih kesulitan merupakan bentuk pengabaian terhadap nilai-mana ajaran Islam.

Adab Berdakwah bagi para Dai kepada Orang Tua

Kewajiban menjaga kelemahlembutan ini berlaku secara mutlak bagi para dai yang bergerak di bidang dakwah (wa ‘alad du’ati ilallah). Seorang dai wajib berlemah lembut ketika berhadapan dengan orang tua dan dilarang keras merasa lebih tinggi atau lebih hebat hanya karena memiliki kapasitas ilmu agama yang lebih banyak daripada orang tuanya yang awam. Pihak yang berstatus sebagai penuntut ilmu maupun dai harus tetap santun kepada orang tua.

Para dai wajib berlemah lembut dalam metode dakwah mereka dengan mencontoh kepribadian Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam ketika mendakwahi bapaknya yang bernama Azar. Praktik dakwah yang santun tersebut dilaksanakan dalam rangka mengamalkan serta merespon sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِف لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi anak yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama.” (Shahih al-Jami’, hadits no. 3651 (hasan))

Kelanjutan hadits mengenai batasan golongan umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan kewajiban terhadap ahli ilmu:

وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Dan mengetahui hak seorang ulama (orang yang berilmu) di antara kami.” (Shahih al-Jami’, hadits no. 3651 (hasan))

Ketetapan ini mengarahkan setiap muslim untuk senantiasa menyadari dan menunaikan hak-hak yang dimiliki oleh orang yang berilmu atas diri mereka. Poin ini menjadi penutup dari faedah yang pertama.

Metode Tahapan di Dalam Berdakwah

Pembahasan kini memasuki faedah yang kedua, yaitu pentingnya menerapkan metode bertahap bersama objek dakwah saat menyeru ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala (at-tadarruju ma’al mad’uwi fid da’wati ilallah). Dakwah memiliki tahapan-tahapan yang harus dilalui secara sistematis, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam saat mendakwahi bapaknya.

Tahapan-tahapan dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam dijabarkan melalui urutan berikut:

1. Tahapan Pertama: Memberikan Informasi secara Tidak Langsung

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam mengawali dakwah dengan memberikan informasi melalui metode pendekatan secara tidak langsung (bi thariqatin ghairi mubasyarah) tanpa ada kesan menggurui. Beliau menyampaikan hujah dengan cara yang sangat baik mengenai hakikat berhala-berhala yang disembah oleh bapaknya. Berhala tersebut dipastikan tidak memiliki kemampuan untuk mendengar, melihat, memberi manfaat, ataupun mendatangkan mudarat, sehingga sama sekali tidak layak untuk dijadikan sebagai tuhan sesembahan. Argumen ini disampaikan secara santun:

يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

“Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?” (QS. Maryam[19]: 42)

2. Tahapan Kedua: Mengajak untuk Mengikuti Wahyu

Tahapan yang kedua adalah meminta sang bapak untuk bersedia mengikuti arahan beliau, karena keselamatan sejati hanya dapat diraih dengan mengikuti wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam menjelaskan kepemilikan ilmu wahyu tersebut melalui perkataannya:

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam[19]: 43)

3. Tahapan Ketiga: Larangan Menyembah Setan

Pada tahapan yang ketiga, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam secara tegas melarang bapaknya untuk mengikuti serta menghamba kepada setan. Larangan ini didasarkan pada tabiat setan yang selalu membangkang kepada syariat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam[19]: 44)

4. Tahapan Keempat: Memberikan Peringatan tentang Azab Allah

Tahapan yang keempat adalah memberikan peringatan mengenai konsekuensi buruk berupa siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila seruan dakwah tersebut tidak direspon dengan baik. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam menyampaikan kekhawatirannya jika sang bapak harus berujung menjadi sekutu setan di dalam neraka:

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam[19]: 45)

Kesimpulan Keteladanan Dakwah

Urutan penyampaian di atas menunjukkan keindahan metode bertahap yang diterapkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam ketika mendakwahi orang tuanya. Seluruh proses dakwah tersebut dilakukan secara berkala dan tidak disampaikan secara sekaligus. Di dalam rangkaian ayat-ayat tersebut, tidak ditemukan adanya sikap marah-marah atau perkataan kasar dari Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam, sehingga kisah ini menjadi teladan yang sangat baik bagi kaum muslimin di dalam menjalankan aktivitas dakwah.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar manusia mencontoh seluruh perkara yang baik di dalamnya. 

Mengikuti Wahyu sebagai Jalan Keselamatan

Pembahasan kemudian beralih pada faedah yang ketiga (al-faidatus tsalitsah), yaitu prinsip bahwa mengikuti wahyu merupakan jalan keselamatan (ittibaul wahyi hua sabilun najah). Setiap hamba tentu mendambakan keselamatan di dunia maupun di akhirat, dan jalan satu-satunya untuk meraih keselamatan tersebut adalah dengan mengikuti wahyu.

Metode para nabi dalam berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala (manhajul anbiya fid da’wati ilallah) senantiasa berpijak pada prinsip mengikuti wahyu yang diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka (huwattiba’u ma yuha ilaihim min rabbihim).

Kebalikan dari keselamatan (an-najah) adalah kebinasaan dan kehancuran. Jalan yang mengantarkan manusia pada kebinasaan adalah hawa nafsu serta penggunaan akal pikiran yang menentang atau menolak wahyu. Kecenderungan seseorang untuk sekadar mengikuti hawa nafsu, akal, dan keinginan pribadinya merupakan tanda bahwa ia sedang meniti jalan menuju kebinasaan.

Oleh karena itu, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam berkata kepada bapaknya untuk menawarkan ilmu wahyu demi keselamatan sang bapak:

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam[19]: 43)

Perintah Ittiba dan Larangan Ibtida

Telah datang dalil-dalil yang sangat banyak di dalam Al-Qur’an dan sunah yang memerintahkan untuk berkomitmen pada ittiba’ (mengikuti tuntunan) serta melarang keras perbuatan ibtida’ (membuat perkara baru atau bidah). Seorang hamba yang menghendaki keselamatan wajib memilih jalan ittiba’ kepada wahyu dan meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan perintah ini di dalam Al-Qur’an:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu ikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-A’raf[7]: 3)

Jalan dakwah yang benar juga wajib berlandaskan ilmu wahyu yang nyata, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (QS. Yusuf[12]: 108)

Batasan Sifat Manusiawi Nabi dan Bantahan Klaim Ilmu Gaib

Dalil lain mengenai kewajiban mengikuti wahyu serta batasan bahwa nabi tidak mengetahui perkara gaib ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perintah-Nya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam surah Al-An’am:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Katakanlah (Muhammad): ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku’.” (QS. Al-An’am[6]: 50)

Melalui ayat ini, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintahkan untuk memaklumkan bahwa beliau tidak memiliki perbendaharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengetahui hal yang gaib, dan bukan seorang malaikat. Beliau hanya berjalan mengikuti apa yang diwahyukan kepada beliau.

Pernyataan ini menjadi hujah yang kuat bahwa apabila ada manusia pada zaman sekarang yang mengeklaim mengetahui hal-hal gaib, maka klaim tersebut merupakan bentuk penyimpangan dan kesesatan yang nyata. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selaku nabi yang paling utama (afdalul anbiya war rusul) sekaligus pemimpin segenap rasul Ulul ‘Azmi saja tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan. Oleh karena itu, klaim mengetahui hal gaib yang datang dari seseorang, termasuk dari oknum yang dianggap ustadz atau kiai, wajib ditolak karena hal tersebut merupakan ciri utama dari kesesatan.

Pengetahuan tentang hal yang gaib secara mutlak merupakan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui pemahaman ini, seorang hamba akan mendapatkan keselamatan. Penegasan mengenai batasan kemanusiaan para rasul yang hanya berjalan di atas bimbingan wahyu tertuang di dalam Al-Qur’an:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al-An’am[6]: 50)

Pernyataan tersebut menunjukkan perbedaan yang nyata antara orang yang melangkah dengan petunjuk wahyu dan orang yang hidup dalam kebingungan tanpa arah.

Dua Perkara sebagai Jaminan Keselamatan Umat

Sebagai landasan untuk memperkuat komitmen terhadap wahyu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jaminan bagi umatnya agar tidak tersesat dalam kehidupan melalui sabda beliau:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan bersama kalian dua perkara yang tidak akan membuat kalian tersesat selama-lamanya apabila kalian memegang teguh keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya (hadits).” (HR. Malik)

Dua perkara yang ditinggalkan tersebut merupakan bentuk wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keselamatan abadi bagi setiap hamba terikat secara mutlak pada kesediaannya untuk memegang teguh Al-Qur’an dan hadits dalam setiap sendi kehidupan.

Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menghadapi Perselisihan

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan sebuah khotbah berupa nasihat yang sangat mendalam (mau’idzah balighah) hingga membuat hati para sahabat diliputi rasa takut dan air mata mereka mencucurkan kesedihan. Di dalam wasiat yang bersejarah tersebut, beliau bersabda kepada para sahabat:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak habsyi. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak.” (HR. Abu Dawud)

Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan realitas masa depan mengenai banyaknya perselisihan dan perbedaan pemikiran yang akan terjadi di tengah umat. Fenomena ini nyata terlihat pada zaman sekarang, dimana banyak pihak saling mengeklaim berada diatas kebenaran ajaran Ahlusunah waljamaah sehingga menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak membiarkan umatnya terjebak dalam kebingungan, melainkan langsung memberikan solusi tunggal untuk keluar dari kemelut perselisihan tersebut melalui kelanjutan sabda beliau:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Maka wajib atas kalian untuk memegang teguh sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelah ku. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HR. Abu Dawud)

Komitmen untuk berpegang pada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan jalan keluar dari segala bentuk kebingungan dan menjadi satu-satunya jalur keselamatan. Segala macam bentuk dakwah, ajakan, ataupun alasan yang terbukti bertentangan dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wajib ditolak.

Penggunaan kiasan untuk menggigit sunnah dengan gigi geraham (al-annawajid) memberikan instruksi yang sangat kuat agar setiap muslim mempertahankan prinsip akidah dan syariatnya secara sungguh-sungguh, tanpa goyah oleh arus perpecahan di sekitarnya.

Sikap Menghadapi Perbedaan Pendapat Menurut Sunah

Realitas di dalam kajian keilmuan menunjukkan bahwa hampir semua permasalahan agama memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagai contoh, di dalam permasalahan pernikahan tanpa kehadiran wali, terdapat pendapat yang membolehkannya yang sering dinisbatkan kepada mazhab Hanafiyah, meskipun keabsahan nisbat tersebut tetap harus diperiksa kembali. Di sisi lain, mayoritas ulama menegaskan bahwa pernikahan tanpa wali hukumnya tidak diperbolehkan.

Apabila kitab fikit seperti Bidayatul Mujtahid dipelajari dari awal, mulai dari pembahasan bersuci (kitabut thaharah), salat, zakat, puasa, hingga haji, di dalamnya akan selalu ditemukan perbedaan pendapat, baik berupa dua, tiga, maupun empat pendapat. Hal ini merupakan kewajaran di dalam dinamika fikih Islam, di mana perselisihan tersebut dapat berupa variasi yang sifatnya saling melengkapi (ikhtilaf tanawwu’) maupun perselisihan yang sifatnya kontradiktif (ikhtilaf tadhadd).

Umat Islam tidak perlu bingung dalam menghadapi banyaknya perbedaan pendapat tersebut jika menjadikan ketetapan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai panduan, yaitu dengan mencari dan mengikuti pendapat yang memiliki landasan Sunnah yang kuat.

Kewajiban Para Dai dalam Mengikuti Manhaj Anbiya

Berdasarkan prinsip keselamatan di atas, setiap dai yang menyeru ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib mengikuti wahyu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits di dalam aktivitas dakwahnya (fa ‘ala du’atillahi taala an yattabi’ul wahya minal kitabi was sunnah fi da’watihim illahi taala).

Komitmen memegang teguh wahyu ini merupakan metode baku yang dipraktikkan oleh para nabi di dalam berdakwah (lianna hadza hua manhajul anbiya fid da’wati ilallah). Jalan ini merupakan satu-satunya jalur keselamatan (sabilun najah) serta jalan yang lurus (shiratal mustaqim) yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meraih surga-Nya. Oleh karena itu, prinsip bahwa mengikuti wahyu adalah jalan keselamatan harus tertanam kuat di dalam akal pikiran, hati, serta dipahami dalil-dalilnya dengan baik.

Bahaya Mengikuti Ajakan Setan

Pembahasan kini memasuki faedah yang keempat (al-faidatur rabi’ah), yaitu pemahaman bahwa merespon panggilan atau mengikuti ajakan setan merupakan bentuk maksiat kepada Allah Yang Maha Pemurah (al-istijabatu lisysyaithani ma’shiyatun lirrahman). Setan dari kalangan jin maupun manusia tidak akan pernah berputus asa untuk menggoda anak cucu Adam karena iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dan menyeret mereka bersama-sama menuju neraka. Di antara target godaan setan yang nyata adalah usahanya yang tiada henti untuk memisahkan dan menceraikan ikatan suci antara suami dan istri.

Mengingat besarnya bahaya musuh yang selalu mengintai ini, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam memberikan peringatan yang sangat keras kepada bapaknya agar waspada terhadap tipu daya setan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam[19]: 44)

Ayat ini menegaskan bahwa ketundukan pada bisikan setan adalah bentuk pembangkangan yang nyata terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianKewajiban Anak dalam Berbakti dan Menjaga Perkataan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56314-kewajiban-anak-dalam-berbakti-dan-menjaga-perkataan/